Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Widget HTML #1

Teman Baru, Sebuah Cerpen

Setiap kali ayah pulang kerja, ia selalu membawa teman baru untuk mengajakku bermain sebentar, sebelum akhirnya menemaniku tidur. Kali ini seorang perempuan berbusana separuh t*l*nj*ng dengan bibir berwarna merah yang punya garis tajam dikedua sudut pipinya. Ia baik hati, seperti yang dikatakan ayah selepas aku membuka pintu rumah dan ayah menciumi keningku.


“Namanya Lisa. Dia baik kok.” Kata ayah sambil mengangkat jari jempol ditangan kanannya, menunjuk orang didepanku yang terhalangi punggung ayah.

Aku mengangguk saja, sambil menatap ayah dan perempuan bernama Lisa itu secara bergantian.

“Kamu anak gadis manis yang baik.” Perempuan itu terlihat sangat sumringah. Lalu, aku dicubitnya. Lagi-lagi ini yang kesekian kalinya.

Setelah mempersilakan ayah dan teman baruku itu masuk ke dalam rumah, aku buru-buru menuju kamar, membenahi tempat tidurku, mematikan lampu utama, dan berbaring menunggu disana. Setelah mereka selesai dengan urusan orang dewasa –kata ayah setiap kali pulang bersama teman baru, mereka akan segera menuju kamarku, menemaniku semalaman, hingga aku terlelap.

Aku sebenarnya tidak banyak menaruh perhatian pada setiap orang yang pulang bersama ayah selama satu tahun belakangan ini. Mereka berubah-ubah wajah dengan cepat setiap malamnya. Lisa salah satu yang akan merubah penampilannya esok hari. Ia barangkali akan menjadi sekadar pelayan disuatu bar atau kafe yang entah dimana aku tak pernah tahu. Yang aku ingat warna bibir dan pakaian dengan setelan seperti itu selalu aku lihat di film-film sebagai pembawa minuman untuk para pelanggan kafe dan bar. Mereka pandai bermain, dan suka bermain. Aku senang, orang seperti Lisa pastilah sangat mengasyikan.

Tiga hari sebelumnya, ayah pulang terlalu larut dan dalam keadaan sudah tertidur. Aku pikir ayah terlalu kecapaian bekerja –memenuhi segala kebutuhanku- hingga harus pulang dalam keadaan tidak sadarkan diri seperti itu. Orang yang menarik tubuhnya dari kantor menuju rumah adalah seorang perempuan yang mengenakan baju –terusan- berwarna cokelat. Rambutnya lurus dan tipis-tipis (yang bagian ini aku sangat mengingatnya persis). Aku membiarkannya masuk membopong tubuh ayah hingga ke kamar. Sedang aku, seperti biasa, berlari menuju kamar tidurku. Mempersiapkan segalanya dan menunggu disana.

Hingga larut malam perempuan itu tidak kunjung datang untuk menemaniku hingga lelap seperti biasanya. Jujur aku gelisah, tidak bisa tidur. Sementara dari luar kamar, tidak terdengar suara apapun. Aku lalu berinisiatif untuk menjemputnya dikamar ayah. Rumah sebesar ini, dengan tujuh kamar tidur, bisa saja membuat ia dan siapapun yang baru saja menginjakkan kaki disini tersesat kapan saja.

Sesampainya dikamar ayah, aku menemukan perempuan tadi sudah t*l*nj*ng, dan berada di atas tubuh ayah. Aku tidak kaget, aku hanya tidak tahan beridiri saja. Tapi, aku juga tidak mau cepat-cepat berlalu dari sana. Makanya aku memilih duduk dilantai dibalik pintu sambil terus memperhatikan apa dan bagaimana ayah menghibur dirinya. Saat perempuan itu mengetahui keberadaanku, ia hanya tersenyum simpul sambil terus menari diatas tubuh ayah. Aku tidak mengerti, dari mana ia mendapatkan suara musik untuk berjoget. Sementara di kamar itu senyap tanpa suara, kecuali suara napas seekor kuda yang entah dari mana asalnya. Sedang ayah, masih terkapar seperti semula saat ia pulang dari tempat kerja –dia terlalu, dan sangat-sangat kecapaian hingga tak mampu bangkit lagi, walau hanya sekedar duduk. Ia tentu saja tidak mengetahui keberadaanku dibalik pintu kamar itu.

Jangan kaget. Semua yang kuceritakan tadi adalah hal yang sangat wajar terjadi dirumahku. Kau boleh menyaksikannya langsung jika kau berkunjung suatu waktu kemari –gratis.

Jauh sebelum ayahku, aku juga pernah melihat ibu sedang menunggangi kuda berbadan besar dan hitam dikamar tidur milik ayah. Aku hanya terlalu muda saja untuk menyadari kalau yang ditunggangi ibu bukanlah seekor kuda bertanduk seperti dalam dongeng yang biasa diceritakan ibu padaku sebelum tidur, melainkan seorang manusia.

Waktu itu ayah sedang pergi ke luar kota. Kata ibu, ayah sedang main serong. Sedang ‘nunggangi’ perempuan lain diluar sana, jelasnya padaku. Aku manggut-manggut saja, yang aku pahami, ibu seperti baru saja mengatakan: ayahmu sedang pergi berburu makanan favoritnya diluar kota.

Yang membuatku tidak tenang, ialah pertanyaan yang muncul dalam diriku sendiri beberapa saat sebelum benar-benar terlelap dikamar tidur. Kenapa ayah tidak mengajak ibu dan aku?

Suatu waktu, aku akan memburu makanan favoritku sendiri. Gumamku dalam hati.

Saat masih berada di kamar dan menunggu urusan orang dewasa ayah dan perempuan bernama Lisa tadi selesai, tiba-tiba pintu kamarku dibuka dari luar. Seseorang masuk diam-diam dengan berusaha menyembunyikan suara langkah kakinya sendiri. Awalnya aku agak tergeragap, kaget memang. Tapi sama sekali tidak ada dalam pikiranku untuk berteriak atau memperingatkan orang seisi rumah kalau baru saja ada orang asing yang masuk ke kamar tidurku. Setelah bayang tubuh itu semakin mendekat, aku baru sadar, orang asing itu adalah ibuku.

Ibu seperti biasa, tidak berubah meski telah pergi selama satu tahun dari rumah ini. Ia selalu tahu bagian mana dari kepalaku yang harus dikecup dan dielus oleh tangan lembutnya sebelum tidur. Sehabis membacakan dongeng, dan aku telah mengatupkan mata. Ia lalu buru-buru keluar, aku tidak tahu ia akan hendak kemana. Apakah ia akan pergi lagi seperti satu tahun yang lalu, bersama seorang lelaki legam yang bertubuh seperti robot itu? Atau kemana? Kenapa ia sangat tergesa-gesa? Itu kenapa akhirnya aku memutuskan untuk mengikuti langkah kakinya.

Aku menghentikan langkah kakiku didepan pintu kamar ayah. Pintunya terbuka separuh, karena ibu baru saja mendobraknya dari luar. Dari dalam suara jeritan seorang perempuan meraung kesakitan terdengar sangat jelas.

“Itu suara Lisa.” Kataku, untuk diriku sendiri.

Lalu hening, hanya rembesan darah yang menabrak ujung kakiku yang membuat aku sedikit bergeser untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi didalam. Seorang perempuan sedang terkapar dibawa kasur tanpa busana. Itu Lisa, wajahnya seperti warna bibirnya sekarang.

Sedang ibu, maaf, ini agak keterlaluan memang. Tapi aku harus menceritakannya padamu tanpa ada yang harus ditutup-tutupi. Ia sedang menari diatas tubuh ayah, sebelum akhirnya menancapkan sebilah pisau itu ke dada ayah yang lapang tanpa busana.

Cerita ini pernah mandeg beberapa kali. Aku mengulangnya dan membuatnya lagi dan lagi. Cerita ini bahkan pernah tidak ku lanjutkan selama tujuh bulan lamanya. Aku sempat bingung, dan membiarkannya tergantung-gantung diberanda komputer.  Hingga aku dan ibuku pindah dari rumah besar peninggalan ayah, dan menetap disebuah kota besar. Kami membeli rumah yang lebih sederhana dari hasil penjualan rumah peninggalan ayah itu. Dan aku melanjutkan sekolah hingga lulus sekolah menengah atas. Kini aku berumur Sembilan belas tahun lebih dua hari. Tulisan ini selesai dihari yang sama ketika kau membacanya. Pada hari ulang tahunku yang ke sembilan belas kemarin, ibu menghadiahiku seorang teman baru. Ia seorang lelaki bertubuh raksasa berwarna gelap. Ia kini yang selalu menemaniku bermain sebelum tidur hingga terlelap.  


Penulis: Sanad Adji
Media: Fb (Sanad)
Sedang bermukim di Jogja, aktif di Klub Sastra Pinggir.

Post a Comment for "Teman Baru, Sebuah Cerpen"