Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Gerimis dan Hujan, Tentang Perasaan dan Sepotong Puisi | Coretan Kecil di Ujung Januari


Gerimis masih turun di malam ini. Adalah permulaan tahun yang redup dan lembab. Gerimis membelai atap-atap rumah dengan mesra dan ramah. Sesekali gemerciknya terciprat ke jendela. Namun tak membuat kuyup dan resah. Gerimis tetap gerimis. Apakah gerimis adalah hujan?

Jawabannya, ya. Gerimis adalah hujan. Sedangkan hujan bukanlah gerimis. Gerimis volume airnya lebih kecil. Membentuk kristal-kristal air. Sementara hujan volumenya bisa lebih besar. Lebih besar dari gerimis. Yang kadang membuat air tergenang di mana-mana. Hujan juga menyebabkan banjir. Gerimis tidak.  Gerimis hanya membasahi atap-atap rumah dan tanah. Hanya sekedar basah. Namun gerimis juga menyebabkan sakit kepala. Lalu pilek. Itulah gerimis dan hujan.

Dulu aku pernah membuat kumpulan puisi yang bertajuk Gerimis dan Hujan. Begitu pula prase tersebut sempat menjadi nama akun facebookku (Sekarang Kabartumbuhmulia). Pada akun facebook tersebut terciptakan kata-kata puitis . Orang-orang suka membaca statusku saat itu. Orang-orang pun jadi penasan. Siapa sebetulnya Gerimis dan Hujan itu. Pada akhirnya ada yang tahu ada pula yang tidak peduli.

Entah mengapa aku sangat suka dengan frase ‘gerimis dan hujan’. Kedua kata tersebut memanglah bersaudara. Ia tak bisa dipisahkan satu sama lainnya. Gerimis dan hujan sama mendatangkan berkah di bumi. Meski terkadang pula harus menjadi ujian berupa musibah.

Kita lihat sekarang Kalimantan Selatan yang tenggelam. Semua itu gara-gara hujan. Tapi orang tidak menyebut gerimis. Hujanlah yang lebih bertanggung jawab. Gerimis tidak tersemat di situ. 

Hujan dengan volume yang tinggi dan durasi yang lama juga sanggup menenggelamkan kota sebesar Jakarta. Kota Jakarta yang semraut kata orang. Kota yang memiliki drainase buruk. Tentang drainase tersebut akan selalu terucap di bibir para pewarta di televisi. Kemudian narasumber di setiap acara televisi pula. Hujan, drainase, pemerintah, merupakan bahan bacaan yang hangat di suatu koran pagi, tontonan yang segar pula di layar kaca televisi. 

Kembali ke pembahasan semula, gerimis di malam hari, telah membawaku jauh pergi dari satu khayalan ke khayalan yang lain. Dari suatu pertanyaan ke pertanyaan yang lain. Lalu dari suatu perasaan ke perasaan yang lain. Lantunan nyanyian di laptopku pun mengiringi langkah khayalanku menuju ke subuah peradaban yang rumit. Lantas aku bersikukuh untuk bangkit. Memulai sesuatu meski sulit. Yaitu di sini. Di lembaran microsoft word ini. Aku memulai. Menuliskan sesuatu yang ingin kutuliskan. Walau terkadang sesuatu itu sekedar bualan. Tapi aku percaya suatu saat nanti ia akan menjadi sebuah peradaban. Yaitu sebuah tulisan.

Semalam malam. Selamat menikmat gerimis dan hujan. 


Penulis: Abduh S. (founder Ka~Lam)

Post a Comment for "Gerimis dan Hujan, Tentang Perasaan dan Sepotong Puisi | Coretan Kecil di Ujung Januari "