Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Widget HTML #1

Kekecewaan Sang Bidadari Oleh Fadly R. Siddiq

Kekecewaan Sang Bidadari
Penulis: Fadly R. Siddiq

Sekapur Sirih
Oleh: Abduh Sempana


Senja itu, di atas rumput nan hijau, di pojok lapangan Yayasan Pondok Pesantren Darul Iman Wattaqwa NW Boro’Tumbuh, seperti biasa setiap hari Rabu, kami selalu berkumpul dalam rangka berdiskusi, menulis, bahkan sekedar berbagi dan bercerita.

Puisi, cerpen, dan novel adalah hal-hal yang paling sering kami bicarakan tatkala berkumpul. Sehingga terkadang kami berambisi untuk menerbitkan buku yang hingga kini tak pernah terwujud. Hihihi...

Kegiatan semacam itu sudah kami lakukan sejak 2017 lalu. Karena tujuan kami adalah untuk menggalakkan literasi di madrasah, maka kami sebut diri kami dengan nama Komunitas Literasi Madrasah atau disingkat dengan Ka-Lam.

Namun karena berbagai kendala akhirnya sempat berhenti di tengah jalan. Tapi syukur alhamdulillah ada sedikit cahaya yang bekerlip, ada setetes embun yang membasahi, sebab kali ini diskusi kecil kami tidak lah terlalu sia-sia tatkala teman-teman anggota Ka-Lam sudah ada yang mampu menyelesaikan satu atau dua cerita pendek, beberapa patah puisi dan juga pantun. Ini menandakan bahwa mereka tetap mencintai literasi. Dengan begitu, Ka-Lam tidaklah tercipta hanya untuk sebuah komunitas tongkrongan.

Salah satu anggota Ka-Lam yang sangat aktif menulis adalah Fadli Rahman Siddiq. Dalam kesibukannya sebagai seorang mahasiswa ia menyempatkan diri untuk menulis apa pun itu. Cerpen, pantun, dan puisi adalah hal-hal yang paling ia gemari untuk ditulis. Salah satunya yang ada di tangan sidang pembaca saat ini.
Lihat: Kumpulan Puisi Fadly R. Siddiq
Tulisan Fadli kali ini sesungguhnya merupakan hasil kontemplasi atau perenungan tentang hakikat kehidupan pada masa keremajaannya. Dalam kondisi hingar-bingarnya tongkrongan dan pestafora yang kadang selalu dibangga-banggakan oleh para kaum remaja masa kini, namun justeru Padli terlihat cekatan. Ia malah tekun belajar sambil merekam setiap kejadian hidupnya dalam tulisan. Kemudian dari hasil tulisannya itu membuat kita menyadari bahwa masa-masa remaja adalah masa-masa keemasan, bukan malah masa-masa yang penuh hura-hura.

Pada beberapa cerpen yang ditulis Fadli pada buku ini masih menyuguhkan soal cinta kasih. Namun bukan cinta kasih yang kenes atau malah kotor. Tapi justeru cinta kasih yang benar-benar suci dan murni.

Tokoh Rahman dalam cerpennya yang berjudul “Hidayah Melalui Cinta yang Tulus” merupakan gambaran tokoh remaja pada umumnya yaitu remaja yang masih labil. Tokoh Rahman yang memiliki dua karakter yakni karakter buruk dan baik adalah gambaran kelabilan itu. Hal semacam ini oleh Dr. Panuti Sudjiman menyebutnya sebagai tokoh bulat.

Kisah Rahman dalam “Hidayah Melalui Cinta yang Tulus” adalah mula-mula seorang pemuda yang buruk perangainya. Ia suka nongrong di pinggir jalan, mabuk-mabukan, dan mencuci ayam tetengga . Namun tatkala ia jatuh cinta pada seorang gadis yang berparas cantik dan taat pada agamanya Rahman pun berusaha mengubah prilaku buruknya. Dan akhirnya wanita itu benar-benar telah menginspirasinya untuk mengenal diri dan agamanya.

Dari cerpen ini juga kita akan tau bahwa cinta tak selamanya identik dengan berpacaran. Namun cinta sesungguhnya adalah sesuatu yang sangat suci sehingga perlu dipertahankan tatkala ia membawa kepada hal-hal kebaikan.

Cerpen-cerpen Fadli yang lain juga masih mengisahkan hal yang hampir sama. Dengan tema yang hampir sama pula. Sehingga dari keseluruhan buku ini bisa ditarik kesimpulan bahwa Islam memang mengenal cinta namun sesungguhnya tidak ada istilah berpacaran di dalam Islam. Yang ada di dalam Islam adalah taarufan. Maksudnya adalah saling berkenalan, saling memahami, saling menasihi, hingga akhirnya bersama-sama membuat komitmen menuju mahligai rumah tangga.

Demikianlah hal yang bisa saya sampaikan pada pengantar buku ini. Saya sarankan supaya Anda membaca sampai habis, menikmati kata demi kata yang ada di dalamnya sehingga Anda mengerti bahwa cinta memang sederhana namun penuh makna. Selamat membaca.

Tumbuh Mulia, 31 Agustus 2018

Post a Comment for "Kekecewaan Sang Bidadari Oleh Fadly R. Siddiq"